Senin, 14 Mei 2012

Implementasi Fungsi dan Perkembangan Hukum

Oleh : Iwan Mulyana

Sebagai gambaran secara umum bahwa fungsi perkembangan hukum dalam pembangunan saat ini tidak terlepas dari beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu modernisasi / perkembangan ilmu pengetahuan, tekhnologi, pertambahan jumlah penduduk (populasi penduduk), pertumbuhan ekonomi, kesehatan, ideologi (pandangan hidup), kultur sosial dan agama.

Dilihat dari beberapa faktor yang mempengaruhi terhadap perkembangan hukum tersebut di atas dalam implementasinya akan terjadi suatu pemilahan fungsi dimana antara faktor yang satu mungkin bisa mempengaruhi faktor yang lainnya, atau mungkin sebaliknya faktor yang satu dengan yang lainnya akan sama sekali berbeda baik itu dalam fungsi, tujuan dan wewenangnya, sehingga diperlukan pembahasan dan penjelasan yang dapat dibagi kedalam enam pembahasan sebagai berikut : (1) arti dan fungsi hukum dalam masyarakat; (2) hukum sebagai kaidah sosial; (3) hukum dan kekuasaan; (4) hukum dan nilai-nilai sosial; (5) hakekat pembangunan sebagai perubahan sikap dan sifat-sifat manusia; dan (6) hukum sebagai alat pembaharuan masyarakat.

1.             Arti dan Fungsi Hukum Dalam Masyarakat

Secara definisi hukum dapat diartikan sebagai alat untuk mengatur yang hakekatnya adalah ketertiban (order). Ketertiban adalah tujuan pokok dan pertama dari pada segala hukum. Kebutuhan akan ketertiban ini, syarat pokok (fundamental) bagi adanya suatu masyarakat manusia yang teratur.
Di samping ketertiban, tujuan lain dari pada hukum adalah tercapainya keadilan yang berbeda-beda  berdasarkan tingkatan, isi dan ukurannya, menurut masyarakat dan zamannya.
Fungsi dari pada hukum dapat diartikankan sebagai suatu rangkaian aturan yang bersifat mengikat terhadap objek dimana timbulnya hukum tersebut, dibuat secara sah dan formal untuk diterapkan dan dijalankan baik oleh pembuat hukum itu sendiri maupun oleh penerima/pelaksana dan atau objek lain yang diperuntukan dari pada hukum itu dengan tujuannya adalah keteraturan dan ketertiban.
Setelah kita mengetahui arti dan fungsi hukum dalam masyarakat berarti dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa manusia – masyarakat – dan hukum merupakan pengertian yang tidak dapat dipisah-pisahkan, dimana secara kodrat manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang hidup berkelompok satu sama lain saling membutuhkan, memiliki tujuan yang sama, berbudaya (memiliki budhi daya cipta dan karsa) yang tertuang dalam norma-norma kehidupan yang tersusun dan teratur.
Pencapaian tujuan hukum yaitu ketertiban atau keteraturan kaitannya dalam masyarakat sebagai objek maka diperlukan usaha dan tekhnik dalam pengaplikasiannya melalui lembaga-lembaga formal yang disesuaikan dengan ruang lingkup dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Sebagai contoh : (1) KUA (Kantor Urusan Agama) sebuah lembaga formal pemerintah yang menangani masalah dan kebutuhan masyarakat dalam hal perkawinan, perceraian, rujuk dan lain sebagainya sesuai tugas pokok fungsi dan wewenang KUA; (2) PUSKESMAS (pusat kesehatan masyarakat) sebuah lembaga formal pemerintah yang menangani masalah dan kebutuhan masyarakat dalam hal kesehatan, pengobatan, persalinan, khitanan, balita, dan lain sebagainya sesuai tugas pokok fungsi dan wewenang PUSKESMAS.

2.             Hukum Sebagai Kaidah Sosial

Adanya hukum sebagai kaidah sosial bahwa manusia sebagai makhluk sosial berkelompok dan bermasyarakat ini tidak hanya diatur oleh hukum, karena selain oleh hukum, kehidupan manusia dalam masyarakat selain dipedomani oleh moral manusia itu sendiri, diatur pula oleh agama, kaidah-kaidah susila, kesopanan, adat kebiasaan dan kaidah-kaidah sosial lainnya.
Antara hukum dan kaidah-kaidah sosial lainnya ini, terdapat hubungan dan jalinan yang erat yang satu sama lain saling memperkuat dalam pencapaian dari makna/tujuan hukum sebagai kaidah sosial.
Dalam hal-hal tertentu hukum dapat berdiri sendiri, artinya hukum memiliki ketentuan-ketentuan dan dapat bersifat dipaksakan dalam suatu cara yang teratur dimana ketentuan-ketentuan hukum itu sendiri tunduk pada aturan-aturan tertentu, baik mengenai bentuk, cara maupun alat pelaksanaannya.
Sebagai contoh : (1) Dalam hal Peraturan Perundang-undangan Pemerintah Daerah tentang masalah pendirian bangunan peribadatan, ini disamping secara hukum terdapat Peraturan yang sah disisi lain dibutuhkan kaidah-kaidah sosial lainnya, toleransi serta izin-izin yang dibutuhkan dari masyarakat yang berada di lokasi yang akan dibangun tempat peribadatan tersebut, contoh yang lainnya bahwa dalam hal bagi waris kekayaan dapat dipakai dari beberapa aspek hukum dan kaidah sosial lainnya; (2) Dalam hal simpan pinjam uang pada lembaga-lembaga keuangan, ini memiliki hukum aturan tersendiri dan standar prosedur yang mengacu pada  ketentuan tertentu.

3.             Hukum dan Kekuasaan

Karena sudah jelas apa hukum itu, baiklah kita sekarang mengkaji apakah kekuasaan itu? Samakah kekuasaan (power) itu dengan kekuatan (force)? Walaupun orang yang memiliki kekuatan (fisik) sering juga berkuasa, sehingga ada kecenderungan setengah orang untuk menyamakan saja kekuasaan (power) itu dengan kekuatan (force), ada kalanya bahkan sering tidaklah demikian halnya.
Sering kita melihat seorang yang berkekuatan dikuasai oleh seorang yang fisiknya lemah, artinya penguasaan terhadap sesuatu banyak aspek yang mempengaruhi sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kekuasaan tidak selalu menyertai kekuatan dan sebaliknya. Ini disebabkan karena kekuasaan tidak selalu, bahkan sering tidak bersumber pada kekuatan fisik. Kekuasaan sering bersumber pada wewenang formal (formal authority) yang memberikan wewenang atau kekuasaan kepada seseorang atau suatu fihak dalam suatu bidang tertentu.
Dalam hal demikian dapat kita katakan, bahwa kekuasaan itu bersumber pada hukum, yaitu ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur pemberian wewenang tadi. Mengingat bahwa hukum itu memerlukan paksaan bagi penaatan ketentuan-ketentuannya, maka dapat dikatakan bahwa hukum memerlukan kekuasaan bagi penegaknya. Tanpa kekuasaan, hukum itu tak lain akan merupakan kaidah sosial yang berisikan anjuran belaka. Kita mengenal polisi, kejaksaan dan pengadilan sebagai pemaksaan atau penegak hukum Negara yang masing-masing ditentukan batas-batas wewenangnya.
Hubungan hukum dan kekuasaan dalam masyarakat dengan demikian dapat kita simpulkan sebagai berikut : bahwa hukum memerlukan kekuasaan bagi pelaksanaannya, sebaliknya kekuasaan itu sendiri ditentukan batas-batasnya oleh hukum, bahwa hukum tanpa kekuasaan adalah angan-angan, kekuasaan tanpa hukum adalah kelaliman, artinya hukum dan kekuasaan adalah bahwa kekuasaan merupakan suatu unsur yang mutlak dalam suatu masyarakat hukum dalam arti masyarakat yang diatur oleh dan berdasarkan hukum. Secara analitik, bahwa kekuasaan merupakan suatu fungsi dari pada masyarakat yang teratur.   
Hakekat kekuasaan tidak dapat ditentukan oleh dua unsur dimana wewenang dan kekuatan menjadi mutlak sebagai sumber dari pada kekuasaaan, karena pada kenyataannya tidak demikian bahwa wewenang formal dan kekuatan fisik, bukan satu-satunya sumber kekuasaan, dalam kenyataannya orang yang memiliki pengaruh politik atau keagamaan, dapat lebih berkuasa dari yang berwenang atau memiliki kekuatan fisik (senjata). Kekayaan (uang) atau kekuatan ekonomi lainnya juga merupakan sumber-sumber kekuasaan yang penting, sedangkan dalam keadaan-keadaan tertentu kejujuran, moral yang tinggi dan pengetahuan pun tak dapat diabaikan sebagai sumber-sumber kekuasaan.
Jadi kekuasaan itu adalah phenomena yang aneka ragam bentuknya (polyform) dan banyak macam sumbernya. Hanya hakekat kekuasaan dalam berbagai bentuk itu tetap sama, yaitu kemampuan seseorang untuk memaksakan kehendaknya atas fihak lain.
Kekuasaan merupakan suatu unsur yang mutlak bagi kehidupan masyarakat yang tertib, bahkan setiap bentuk organisasi yang teratur. Akan tetapi karena sifat-sifat dan hakekatnya, kekuasaan itu untuk dapat bermanfaat harus ditetapkan ruang lingkup, arah dan batasan-batasannya. Untuk itu kita membutuhkan hukum dan sekali ditetapkan hendaknya pengaturan kekuasaan dipegang teguh, inilah inti daripada pengertian bahwa kekuasaan itu harus tunduk pada hukum.
Karena kompleksnya kekuasaan sebagai unsur pengatur kehidupan masyarakat ini, maka selain pengaturannya penting pula soal (1) watak-watak dan sifat yang harus dimiliki oleh pemegangnya dan soal (2) sikap yang dikuasai. Mengingat sifat dan hakekat kekuasaan, jelas kiranya bahwa tidak setiap orang dengan begitu saja dapat diserahi kekuasaan, harus dipersiapkan untuk itu. Seorang pemegang kekuasaan harus memiliki semangat mengabdi terhadap kepentingan umum (sense of public service).
Mengenai sikap yang dikuasai, dapat dikemukakan bahwa pada satu fihak, ia mempunyai kewajiban tunduk pada satu fihak, ia mempunyai kewajiban tunduk pada penguasa (the duty of civil obedience), tetapi pada fihak lain, ia pun harus sadar akan hak-haknya sebagai anggota masyarakat. Sebab hanya dengan demikian ia bisa menggunakan jaminan-jaminan yang diberikan oleh hukum tidak hanya untuk melindungi dirinya sendiri, tapi juga untuk menyelamatkan masyarakat serta menjaga si-penguasa dari kehancuran.
Sehingga baik si-penguasa maupun si-rakyat, harus dididik untuk memiliki kesadaran akan kepentingan umum (public spirit). Dengan jalan pendidikan yang terarah dan sistematis, yang tidak hanya terbatas pada sekolah, tetapi meliputi segala lembaga-lembaga kehidupan masyarakat (social institution) termasuk lingkungan keluarga.
Bahwa tingkatan pencapaian dalam periode kekuasaan dalam suatu jabatan tertentu atau pimpinan tertentu dalam konsepsi hukum dan kekuasaan akan terukur dari sejauh mana tingkat kekuasaan yang dijalankan atas dasar hukum yang berlaku telah menjadi ketetapan dijalankan dengan baik oleh si-penguasa dan mendapat respon yang baik juga secara kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan wewenang si-penguasa yang dijalankan terhadap ketentuan-ketentuan hukum, dalam hal ini pelaksanaan hukum dapat diaplikasikan oleh si-penguasa dan rakyatnya.
Permasalahan akan terjadi apabila hukum yang berlaku hanya dijalankan oleh satu pihak, dimana hanya si-penguasa saja yang menjalankan ketentuan-ketentuan hukum tersebut tanpa ada respon dari rakyatnya sehingga konsepsi hukum dan penguasa terjadi ketimpangan dimana proses terjadi atau terbentuknya hukum kurang seimbang, dalam hal ini penulis akan mengambil contoh kasus tersebut dan melakukan penelitian untuk melengkapi skripsi ini pada bab selanjutnya.

4.             Hukum dan Nilai-nilai Sosial Budaya

Hukum sebagai kaidah sosial, tidak lepas dari nilai (values) yang berlaku di suatu masyarakat, bahkan dapat dikatakan bahwa hukum itu merupakan pencerminan daripada nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup (the living law) dalam masyarakat, yang tentunya sesuai pula atau merupakan pencerminan daripada  nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat itu tadi.
Dalam suatu masyarakat yang sedang dalam peralihan (intransition) dari suatu masyarakat yang tertutup, statis dan “terbelakang” ke suatu masyarakat yang terbuka, dinamis, “maju” (modern) nilai-nilai itu pun tentunya sedang dalam perubahan pula. Dilihat secara demikian, maka dalam pembangunan  yang terjadi secara fisik berupa bertambah banyaknnya gedung, jembatan dan lain sebagainya, mesti juga ditunjang dengan pembangunan nilai-nilai dan sikap hidup daripada manusianya itu serndiri yang ada dalam masyarakat, karena tanpa upaya itu dilakukan maka pembangunan yang dilaksanakan sifatnya hanya pemborosan belaka.
Sebagai contoh ketika dibuat sebuah taman kota di suatu daerah tanpa didukung oleh pola kehidupan masyarakat yang memiliki nilai-nilai dan sikap hidup intelektualnya baik maka taman kota tersebut tidak akan tertata rapih dalam kurun waktu yang lama, karena yang terjadi diantaranya membuang sampah sembarangan, parkir sembarangan, membuang puntung sembarangan, pencoretan tulisan-tulisan yang tidak diperuntukan pada dinding-dinding yang ada pada taman kota tersebut dan beberapa nilai atau kebiasaan buruk masyarakat sering terjadi sehingga pembangunan terhadap nilai-nilai dan sikap hidup intelektual dalam suatu masyarakat sangatlah penting untuk menyeimbangkan terhadap tatanan pembangunan yang dilaksanakan.

5.        Hakekat Pembangunan Sebagai Perubahan Sikap dan Sifat-sifat manusia

Nilai-nilai tidak lepas dari sikap (attitude), sifat-sifat dan kebiasaan  yang (seharusnya) dimiliki orang-orang yang menjadi anggota masyarakat sebagai penerima manfaat dalam proses berlangsungnya pembangunan sangatlah penting adanya perubahan ke arah yang lebih baik, sehingga pembangunan yang dilaksanakan tertunjang oleh sikap dan nilai-nilai sosial budaya yang dapat menjaga dan memanfaatkan daripada hasil pembangunan.
Jadi hakekat daripada masalah pembangunan adalah pembaharuan cara berpikir dan sikap hidup. Tanpa sikap dan cara berpikir yang berubah, maka pengenalan (introduction) lembaga-lembaga modern dalam kehidupan tidak akan berhasil.
Permasalahannya bahwa dalam proses perubahan ke arah yang lebih baik ini membutuhkan pemilahan dalam memilih prioritas mana yang lebih efektiv kiranya terhadap nilai-nilai mana sajakah yang diharapkan adanya perubahan dalam struktur masyarakat yang diinginkan sehingga efektiv juga penerapannya terhadap pembangunan yang dilaksanakan.
Dengan demikian maka hukum dengan sendirinya akan menyesuaikan dengan keadaan sikap dan nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat, satu sama lain saling menguatkan dimana hukum yang tertuang dalam peraturan-peraturan yang syah dapat menuntun masyarakat menuju kepada perubahan yang semakin baik.

6.             Hukum Sebagai Alat Pembaharuan Masyarakat

Dari uraian mengenai arti dan fungsi hukum, dapat kita katakan bahwa hukum merupakan suatu “alat untuk memelihara ketertiban”  dalam masyarakat. Mengingat fungsinya di atas sifat hukum pada dasarnya adalah konservatif. Artinya hukum bersifat memelihara dan mempertahankan yang telah tercapai.
Fungsi demikian diperlukan dalam setiap masyarakat, termasuk masyarakat yang sedang membangun. Karena dalam hal ini ada hasil yang harus dipelihara, dilindungi dan “diamankan”.
Bahwa kesulitan dalam pengaplikasian suatu hukum sebagai alat untuk mengadakan perubahan-perubahan kemasyarakatan adalah bahwa kita harus sangat berhati-hati agar supaya oleh karenanya justru tidak ditimbulkan kerugian pada masyarakat. Tindakan demikian tidak semata-mata merupakan tindakan yudikatif atau badan peradilan (yudikatif) yang secara “formal yuridis” harus tepat karena eratnya hukum dengan segi-segi sosiologi, antropologi dan kebudayaan daripada persoalan.
Karena itu, ahli hukum di suatu masyarakat yang sedang membangun, memerlukan pendidikan yang lebih baik daripada biasa dalam arti meliputi suatu spektrum ilmu-ilmu sosial dan budaya yang dibutuhkan dalam mempelajari hukum positif.
Dari gambaran yang telah dijelaskan mengenai arti daripada fungsi dan perkembangan hukum dalam pembangunan sangat jelas, fungsi dan perkembangan hukum dalam pembangunan memiliki peranan yang sangat penting dalam keberhasilan pencapaian pembangunan pada suatu wilayah dimana terdapat batas-batas wewenang penguasa, terdapatnya hak dan kewajiban, ketaatan/kepatuhan terhadap hukum, efektivitas pembangunan, pembaharuan atas sikap dan nilai-nilai intelektual. Sehingga masyarakat mampu merespon dengan baik turut andil dalam terciptanya/terwujudnya fungsi dan tujuan hukum itu sendiri yaitu tertib dan teratur. Bahwa pembangunan yang dilaksanakan oleh si-penguasa dapat dimanfaatkan dan dijaga dengan baik oleh masyarakat.
Kutipan dari : "Fungsi dan Perkembangan Hukum dalam Pembangunan Nasional" oleh Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmaja,SH.L.L.M., HAL 1-11.



SOSIOLOGI HUKUM

1.             Pengertian Sosiologi Hukum
Sosiologi Hukum adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang secara analisis dan empiris mempelajari hubungan timbal balik antara hukum dengan gejala-gejala sosial lainnya.
Bahwa untuk mendefinisikan sosiologi hukum, yang dalam penelitiannya mencakup teori-teori dan sistem-sistem yang berlainan, seperti pendekatan etnologis perbandingan. Hal ini tidak berarti bahwa teori hukum hanya berurusan dengan teori semata, dan sosiologi hukum dengan praktik. Sesungguhnya terdapat hubungan yang erat antara nilai tertinggi dan pelaksanaan praktis dari hukum. Oleh karena itu, teori hukum dan sosiologi hukum harus bekerja sama di dalam ilmu perundang-undangan. Sosiologi akan memperoleh arti penting dari tujuan-tujuannya, tetapi tujun akhir selalu tergantung dari pertimbangan-pertimbangan filsafiah dan bukan pertimbangan-pertimbangan ilmiah.
Satjipto Rahardjo mendefinisikan sosiologi hukum sebagai ilmu yang mempelajari fenomena hukum, dari sisinya tersebut di bawah ini disampaikan beberapa karakteristik dari studi hukum secara sosiologis (Satjipto Rahardjo, 1982:293).
Pertama, sosiologi hukum bertujuan untuk memberikan penjelasan mengenai praktik-praktik hukum baik oleh para penegak hukum maupun masyarakat. Sosiologi hukum berusaha menjelaskan mengapa praktik yang demikian itu terjadi, sebab-sebabnya, factor-faktor apa saja yang berpengaruh, latar belakangnya dan sebagainya. Tujuan untuk memberikan penjelasan tersebut di atas akan tampak agak asing kedengarannya bagi studi hukum tradisional, yaitu pengajaran hukum yang bersifat preskriptif yang hanya berkisar pada “apa hukumnya” dan bagaimana “menerapkannya”. Dengan demikian bahwa mempelajari hukum secara sosiologis adalah menyelidiki tingkah laku orang dalam bidang hukum. Dalam kaitannya dengan uraian di atas Sutjipto Rahardjo berpendapat bahwa :
Dengan demikian, sosiologi hukum tidak hanya menerima tingkah laku dari luar saja, melainkan ingin juga memperoleh penjelasan yang bersifat internal, yaitu yang meliputi motif-motif (hukum), maka sosiologi hukum tidak membedakan antara tingkah laku yang sesuai dengan hukum yang menyimpang. Kedua-duanya merupakan objek pengamatan dan penyelidikan ilmu (Satjipto Rahardjo : 1982:293).
Kedua, sosiologi hukum senantiasa menguji keabsahan empiris dari suatu peraturan atau pernyataan hukum. Apabila dirumuskan kedalam suatu pertanyaan, maka pertanyaan itu adalah; “bagaimanakah dalam kenyataannya peraturan tersebut?”, “apakah kenyataannya memang seperti tertera pada bunyi peraturan?”. Disini terdapat perbedaan yang besar antara pendekatan tradisionil yang normatif dengan pendekatan sosiologi, yaitu bahwa yang pertama menerima saja apa yang tertera pada aturan hukum, sedang yang kedua senantiasa mengujinya dengan data empiris.
Ketiga, berbeda dengan ilmu hukum, sosiologi hukum tidak melakukan penilaian terhadap hukum. Perilaku yang mentaati hukum dan yang menyimpang dari hukum sama-sama merupakan objek pengamatan yang setaraf. Sosiologi hukum tidak menilai yang satu lebih dari yang lain bahwa perhatiannya yang utama hanyalah pada memberikan penjelasan terhadap objek yang dipelajarinya.
Hukum secara sosiologis merupakan suatu lembaga kemasyarakatan (legal institution), yang diartikan sebagai suatu himpunan nilai-nilai, kaidah-kaidah dan pola perikelakuan yang berkisar pada kebutuhan-kebutuhan pokok manusia.
Seorang ahli sosiologi hukum harus menganalisis gejala-gejala hukum yang terjadi di masyarakat secara langsung. Hal ini sesuai dengan hakikat dari ilmu sosiologi itu sendiri, yaitu merupakan suatu ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok. Selain itu, sosiologi juga mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial (Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi (ed.) 1964 :14). Hal tersebut berkaitan dengan keberadaan hukum dalam masyarakat. Hal ini berarti sosiologi hukum merelatifkan hukum itu menjadi tingkah laku manusia dalam masyarakat. Dengan demikian sosiologi hukum tidak melihat hukum itu sebagai lembaga-lembaga hukum, melainkan sebagai pola hubungan antara manusia di dalam masyarakat.

2.             Sejarah Perkembangan Sosiologi Hukum
Dilihat dari sejarahnya istilah “sosiologi hukum” pertama kali dipergunakan oleh seorang Itali yang bernama Anzilotti pada tahun 1882, bahwa perkembangan terbentuknya sosiologi hukum tersebut pada dasarnya muncul dari hasil pemikiran-pemikiran para ahli hukum maupun sosiologi. Hasil pemikiran tersebut mewakili kelompok-kelompok disiplin filsafat, ilmu hukum maupun disiplin nomoteris. Oleh karena itu, sosiologi hukum merupakan refleksi dari inti pemikiran-pemikiran tersebut (Soerjono Soekanto, 1979:9).
Sebagaimana disebut di atas bahwa istilah sosiolgi hukum untuk pertama kalinya dipergunakan oleh Anzilotti, akan tetapi ditinjau dari sudut sejarah sosiologi hukum penyebutan ini kurang berarti. Hal tersebut dikarenakan tidak ada penjelasan selanjutnya mengenai perkembangannya sejak saat itu. Sementara pandangan atau uraian yang lebih substansial sifatnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan ini datang dari Roscoe Pound, Eugen Ehrlich, Max Weber, Karl Llewellyn, dan Durkheim.
Perkembangan sosiologi hukum tidak mungkin dilepaskan dari pengaruh filsafat hukum, ilmu hukum dan sosiologi. Filsafat hukum dalam hal ini para akhli filsafat hukum sebenarnya merupakan pembuka jalan terbentuknya dan perkembangan selanjutnya dari sosiologi hukum.
Kemudian secara historis dan perkembangan hukum mulai menjadi perhatian khusus pada abad kesembilanbelas dimana cara pandang hukum yang semula bersifat abstrak dan formal legalistis menuju pada suatu pandang yang bersifat yuridis sosiologis atau yuridis empiris, penguatan terhadap cara pandang hukum ini telah dipelopori oleh Von Savigny (madzhab sejarah) telah menarik perhatian banyak orang dari suatu analisis hukum yang bersifat abstrak dan ideologis kepada suatu analisis hukum yang difokuskan pada lingkungan sosial yang membentuknya (konsideransi/volksgeist).
Pokok pemikiran Von Savigny adalah hukum merupakan perwujudan dari kesadaran masyarakat (volksgeist), juga berpendapat  bahwa semua hukum berasal dari adat istiadat dan kepercayaan dan bukan berasal dari pembentuk undang-undang. Madzhab sejarah itu kemudian membuka jalan bagi timbulnya aliran-aliran sociological jurisprudence, yang kemudian juga membawa pengaruh besar terhadap ilmu-ilmu sosial lain dan proses kelahiran sosiologi.

KEBUDAYAAN

Kebudayaan = cultuur (bahasa Belanda) = culture (bahasa Inggris) berasal dari perkataan Latin “Colere” yang berarti pengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti berkembanglah arti culture sebagai “segala daya dan aktivitet manusia untuk mengolah dan mengubah alam”.
Dilihat dari sudut bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta “bhuddayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.
Secara Definisi kebudayaan telah diterangkan dan dijelaskan oleh banyak sarjana. Dua orang sarjana antropologi yang terkenal yaitu AL Kroeber dan C. Kluchohn telah menyusun dan mengumpulkan berbagai definisi tentang kebudayaan

Pandangan serta pengertian budaya yang dikutip dari internet dengan alamat website www.wikipedia.com sebagai berikut di bawah ini :

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.[1] Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.[1] Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.[1]
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[2]
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" d Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Berdasarkan wujudnya tersebut, Budaya memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli atropologi Cateora, yaitu :
Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
Lembaga social
Lembaga social dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem social yang terbantuk dalam suatu Negara akan menjadi dasar dan konsep yang berlaku pada tatanan social masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota dan desa dibeberapa wilayah, wanita tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi atau perusahaan. Tetapi di kota – kota besar hal tersebut terbalik, wajar seorang wanita memilik karier
Sistem kepercayaan
Bagaimana masyarakat mengembangkan dan membangun system kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang hidup dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara bagaimana berkomunikasi.
Estetika
Berhubungan dengan seni dan kesenian, music, cerita, dongeng, hikayat, drama dan tari –tarian, yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran, agar pesan yang akan kita sampaikan dapat mencapai tujuan dan efektif. Misalkan di beberapa wilayah dan bersifat kedaerah, setiap akan membangu bagunan jenis apa saj harus meletakan janur kuning dan buah – buahan, sebagai symbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota besar seperti Jakarta jarang mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan cara tersebut.
Bahasa
Bahasa merupakan alat pengatar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah, bagian dan Negara memiliki perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu komunikasi bahasa merupakan komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa memiliki sidat unik dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebut. Jadi keunikan dan kekomplekan bahasa ini harus dipelajari dan dipahami agar komunikasi lebih baik dan efektif dengan memperoleh nilai empati dan simpati dari orang lain.(www.wikipedia.org)

Dapat dipahami dari beberapa penjelasan baik secara depinisi maupun secara deskripsi tentang kebudayaan yang ada dalam kehidupan manusia, yang apabila dikaitkan bahwa kebudayaan merupakan sebuah disiplin ilmu yang sangat mempengaruhi terhadap timbulnya suatu hukum (nilai-nilai, etika, norma dan aturan) yang dituangkan kedalam ketentuan-ketentuan yang baku yang disetujui atau diakui baik oleh kelompok sosial (civil society) maupun oleh lembaga-lembaga (institutions).

Sehingga dengan demikian timbul suatu hukum adat yang secara harpiah dapat diartikan sebagai hukum asli yang tidak tertulis yang memberi pedoman kepada sebagian besar orang Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, dalam hubungan antara satu dengan lainnya baik di desa maupun di kota, dengan kata lain adanya kebiasaan kebiasaan yang timbul dalam kehidupan menjadi tradisi yang dilakukan secara terus menerus.
Kemudian di samping bagian tidak tertulis dari hukum asli ada pula bagian yang tertulis, yaitu seperti : Piagam, perintah-perinta Raja, patokan-patokan pada daun lonyar, awig-awig(dari Bali), dan lain sebagainya. Pada bagian hukum asli yang tertulis pengaruhya sangat kecil dibandingkan dengan hukum asli yang tidak tertulis, karena hukum asli yang tertulis biasanya dipakai hanya untuk sebuah kegiatan yang sifatnya temporari. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar